Geliat sebuah jiwa
yang pada suatu malam
terbangun dari tidurnya
terhenyak akan perjalanan hidupnya,
membuka mata
dan melihat sekeliling,
kegelapan dan kesendirian
kelemahan dan ketakberdayaan,
geliat sebuah jiwa yang berkata,
...lihatlah kehidupan!
langit yang membentang tak terbatas
membingungkan para pencari timur dan barat
bumi yang terhampar
mataharui yang bersinar
bulan yang menggantikan matahari
bintang-bintang yang menemani
dan awan yang menurunkan hujan,
apa artinya semua ini
dari mana asalnya
ialah wujud yang ada
sejak awal pertama yang gaib
sejak suatu hari yang misteri
tanggal kelahirannya
sejak ditetapkannya kehidupan di bumi
geliat sebuah jiwa ayang bertanya
darimana asalnya
dan kemana ia akan kembali
ketika menyadari tanah
adalah tempat kakinya berpijak
yang makan dari belas kasih matahari
dan minum dari turunnya hujan,
geliat sebuah jiwa yang bertanya
bagaimana nasib hidup sesudah ini,
ketika sebuah kematian tiba-tiba
datang menjemput
atau ketika Tuhan menyirnakan wujud dunia
dan menampakkan kebesaranNya
atau ketika bumi bergoncang
protes atas kelelahan pengabdianya
dan berhenti berputar
ketika lelah sudah lihat perbuatan manusia
geliat sebuah jiwa
yang suatu hari kembali bertanya
kemana lagi mesti
menghadapkan wajah hidup
kepada siapa lagi mesti adukan diri
kepada siapa mesti menghadapkan wajah jiwa
yang berlumur lempung dunia
ialah jiwa kesunyian
yang senantiasa terjaga di tengah malam,
atau termenung di ujung pagi
ialah sebuah jiwa
yang berdoa untuk damai penduduk bumi
ialah jiwa yang hidup bersama
jiwa-jiwa yang saling mengasihi
karena inilah hakekat kehidupan,
nampakkan kasih pada wajah seluruh alam
sebuah jiwa
yang senantiasa berharap malam
berlalu dalam kesunyian
karena inilah kehidupan jiwa
yang berkata bahwa Tuhan
adalah teman sejati manusia
walau semua orang telah meninggalkannya
...
kini pagi telah menjelang
orang-orang sibuk menyiapkan
upacara penyembahan
kepada Sang Agung
pencipta alam raya
karena Ia-lah kehidupan
sucikan diri,bersihkan pakaian
mengganti kerakusan kemarin hari
dengan kerendahan hati ini hari
menukar keburukan dengan sebuah niat
akan harap hidup yang lebih baik,
ambil air kesucian,
usapkan di dada, wajah dan tangan
bersama menghadapkan diri kepada Allah,
inilah bekal yang sesungguhnya
untuk kehidupan kelak
yang lebih kekal, yang lebih benar
ialah kehidupan yang abadi
yang tak ada sandiwara lagi
sebagaimana sabda Junjungan tercinta
"apa sebenarnya aku
dan apa sebenarnya dunia ini?
aku di dunia hanyalah
seperti seorang penunggang kuda
yang sedang berteduh di bawah sebuah pohon
kemudian beranjak meninggalkannya"
inilah bekal
untuk menghadapkan wajah
kepada Sang Kuasa
untuk isi jiwa dengan kekuatan
isi hati dengan kesabaran dan cinta
dengan kebaikan dan keanggunan
lenyapkan segala keburukan dan kefanaan
dan tanggalkan kerakusan
inilah bekal utnuk bisa dikenal Tuhan
utnuk bisa dikaruniai cahayaNya
dalam setiap detik yang berlalu
dan waktu yang berputar
inilah yang masih menyimpan sebuah harap
bahwa Tuhan 'kan masih
menurunkan sinar matahari dan air hujan
bersama menghadapkan diri
dalam sebuah gemuruh yang tak terdengar
namun terasa bergetar di setiap hati
erasakan kehadiranNya,
untuk kemudian berkata,
"ini aku datang kepadaMu...
jiwaku yang kerdil
memohon belas kasih dariMu
jiwaku yang buruk
mendamba rahmat dan ampunanMu
jiwaku yang hina mendamba kecintaanMu
dan cinta dari yang mencintaiMu
jiwaku yang rendah
mendamba untuk bisa mencintaiMu"
bersama-sama tengaahkan tangan
mohon pertaubatan
atas perilaku buruk manusia
untukl mengembalikan kesadaran mereka
untuk senantiasa menghadirkan Tuhan
dalam wujud dirinya
untuk senantiasa melihat tuhan
dalam setiap wajah kehadiran
sehingga tak ada sebuah kehadiran yang acak
dalam setiap wujud jiwa
...dan ketika matahari
mulai menampakkan wajahnya,
tampak beriringan
para perempuan dan lelaki
mencari kehiupan
berjalan bersama
menyebar ke timur dan barat
ke utara dan selatan
menuruni ladang dan sawah
menggiring sapi
dan memanggul cangkul
menanami bumi,
menyirami bumi,
dengan peluh suka
dan airmata cinta...
taked from : Arini Hidajati. jiwa-jiwa pencinta
No comments:
Post a Comment