Musholla Al-Iman. sebuah musholla di pedesaan tepatnya di Desa Pisang Baru Kecamatan Bumi Agung Kabupaten Way Kanan Provinsi Lampung. dari sinilah saya mulai belajar agama islam lebih mendalam, mulai dari mengaji dan lain sebagainya. Musholla ini mulai berdiri secara permanen setelah beberapa kali mengalami perpindahan posisi.
Awal mula di sebuah surau di pelataran rumah bapak Nurjoko. Masih ingat, karena lupa tahun, pas aku masi sekolah di jenjang Taman Kanak-Kanak. tak lama, entah mengapa, pindah ke rumahnya bapak Mursalin, disini aktivitasnya tak selayaknya musholla biasanya, karena pusat aktifitas di ruang keluarga rumah keluarga bapak mursalin, jadi hanya ada aktivitas sholat dan mengaji hanya untuk anak-anak termasuk saya.
Tak lama kemudian, berpindah ke sebuah ruangan di gedung Sekolah Dasar Negeri 1 Pisang Baru. nha, disini aktivitas layaknya sebuah musholla dapat dilakukan, kurang lebih selama 2 tahun. Kemudian, mulai dibangunlah sebuah musholla di pekarangan rumah Bapak Kaderi. disinilah musholla Al-Iman Desa Pisang Baru berdiri secara permanen. masi ingat, kalo tidak salah musholla ini di desain oleh Bapak Mursalin, karena sempet ngintip pak Mursalin lagi nggambar tu desain pas lagi ngajar Agama Islam di kelas 2 SD.
awalnya, Musholla Al-Iman ini hanya didirikan bagian depan saja, yaitu bagian yang diatapi kubah saja, (lihat gambar). karena jamaah membludak ketika bulan ramadhan tiba, maka dibangunlah bagian depannya lagi, yang difungsikan untuk tempat jamaah perempuan.
sedikit cerita, perjalanan mengajiku waktu kecil dulu di musholla ini. dulu, waktu mengaji adalah waktu antara sholat maghrib dan sholat isya. jadi anak-anak di lingkungan sekitar mulai kumpul kurang lebih jam 17.30, tak lain tuk bermain dulu. permainan tradisional, mulai dari petak umpet, gobak sodor, bintang alian, taplak, lompat tali, bentengan, dam-daman, kasti, bola kaki, dan masi seabrek permainan lainnya.
masuk maghrib, baru pada wudhu. yang dapet giliran adzan, langsung adzan, dan yang lainnya nunggu si muadzin selesai adzan tuk rebutan microphone buat pujian (shalawatan, dsb) sambil menunggu makmum lainnya berdatangan dan sang imam datang. semuanya telah terjadwal dengan rapih, siapa yang adzan, siapa yang iqomat, dan siapa yang piket. selesai sholat maghrib, langsung belajar mengaji, guru ngajinya waktu itu adalah Pak Mursalin, Pak Kaderi, Pak Mulyono, Bu Rina Sulasmi, Bu Stianingsih, Bu Nurhayati, Bu Sri Lestari, Lek Darmanto, Lek Damis, dan Kak Ujang. Prosedural mengajinya begini :
1. Kalau masi Iqro’ :
a. Latihan Membaca Individual
b. Sudah merasa siap, langsung menghadap ke salah satu guru
ngaji di atas untuk disimak bacaannya.
c. sembari disimak, akan di beritahu letak kesalahan dan
perbaikannya.
d. selesai membaca (biasanya 1 halaman per 1 malam mengaji),
langsung diberi keputusan pindah ke halaman selanjutnya
atau mengulang lagi di halaman tersebut atau lulus/tidak lulus
dalam 1 jenjang Iqro’ untuk berpindah ke jenjang Iqro’ selanjutnya.
2. Kalau Sudah Al-Qur’an :
a. Latihan Membaca Individual
b. Sudah merasa siap, langsung menghadap ke salah satu guru
ngaji di atas untuk disimak bacaannya.
c. sembari disimak, akan di beritahu letak kesalahan dan
perbaikannya.
d. tak ada keputusan lulus atau tidak bacaa yang habis di baca,
langsung dapat dilanjutkan ke halaman berikutnya.
wah ,,, cukup menarik sob...
ReplyDeleteinget waktu masih kecil, ceritanya mirip.
maklum org kampung....
www.abfirdauz.blogspot.com
salam kenal mas,sekarng tinggal dmna??
ReplyDeleteklu pak mul dan bu sri saya kenal, soale guru SMP saya hehe
Aku pernah jadi muadzin neng kunu mas hehhe
ReplyDelete